Bukan Akhir Hanya Sesuatu yang kecil
Oleh : M Zainul Arifin
Ingin berlari jauh
meninggalkan semua, namun tak mampu berlari dari bayang – bayang masa lalu.
Biarlah semua berjalan dengan apa adanya, meskipun harus semakin larut dalam
harapan hampa. Mungkin itulah yang dirasakan Arif disore yang kelabu,
menurutnya. Ketika Rena, wanita yang sangat dicintainya sudah merasa lelah
bersamanya dan memustuskan untuk mengakhiri semua dengannya. Ya, Arif sadar
memang ini semua salahnya. Salahnya yang selalu posesif dan egois. Tak dapat
lagi bercanda dengannya melihat senyum indahnya setiap pagi sebagai penyemangat
di kelas. Meskipun Arif sudah mencoba untuk memperbaiki semua dan mencoba untuk
merubah semua sifat buruknya, dirasa tak mungkin akan berjalan indah seperti
dulu lagi, masa indah dimana sepotong besi berkarat akan terasa bagikan permata
yang selalu menghiasi hari – harinya. Kini Arif benar – benar sendiri melewati
hari yang tak seperti biasanya.
Beberapa hari
berlalu, namun Arif masih belum bisa menerima kenyataan pahit yang dialaminya
kini. Mungkin hari yang berlalu itu indah bagi sebagian orang, namun tidak
untuk Arif saat itu.
“keep smile and
stay cool” kata Arif,meskipun sebenarnya pahit untuk diucapkannya.
Dulu hampir setiap
hari kurang lebih pukul 04.00 handphonenya sudah berdering tanda orang
tercintanya membangunkannya untuk segera melaksanakan ibadah sholat Subuh. Sekarang
tidak ada lagi yang seperti itu inbox HP-nya pun sepi, hanya ada tulisan
empty di dalamnya.